Blog pijat urut ini merupakan referensi yang sangat baik bagi pemijit dalam merawat pasien atau pun awam dalam mencoba melatih terapi pijat dan urut. Banyak pembahasan untuk pijat karena terkilir/keseleo/dislokasi sendi,ThaiYo, merawat dan mereposisi cedera tubuh, accupressure dan refleksi. Untuk pijat Hubungi Rumah Sehat Thera Afiat, Telp./WA 08111494599, 087883171247, Jl.Kelapa Sawit Raya Blok DD No. 15, Kelapa Gading, Jakarta Utara, STPT No: 001/2.60.0/31.72. 06.1001/-1.779.3/2015.
Tampilkan postingan dengan label Sunter Kodamar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunter Kodamar. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 14 Desember 2019
Saraf kejepit dan Frozen Shoulder
Saraf Kejepit dan Frozen shoulder
Saraf kejepit bisa menyebabkan rasa nyeri, lemah, kesemutan, atau mati rasa pada area tubuh.
Jika bahu Anda mangalami sensasi ini, kemungkinan saraf yang bermasalah ada di sekitar tulang belakang. Bisa juga terkena sindrom Frozen shoulder.
Sourcesinaubareng.
Untuk solusinya : bisa berbekam di Jakarta utara , hubungi :
Rumah Sehat Thera Afiat
Jl. Kelapasawit raya
Jakarta utara
Hp/wa 08111494599
Hp 08788 3171247
#theraafiat
#rumahsehattheraafiat
#kliniktheraafiat
#bekamkelapagading
#bekamsunter
#bekamkodamar
#therainstitute
#kliniksehatafiat
#verrijpma
#notaverrijpma
#tukangbekam
#bekamterdekat
#bekammedis
#bekamsunah
#bekamnovember
#bekammulud
#bekamrabiulawal
#oxidantdrainagetherapy
#bloodletting
Label:
Saraf kejepit, Frozen shoulder, Bekam Medis, Bekam untuk Diabetes, sakit Gula, Thera Afiat, Verri JP MA, Bekan Terdekat, Bekam Kelapa Gading, Sunter Kodamar
Senin, 20 Mei 2019
Terapi Trigger Point
Terapi Trigger Point;
/Trigger point therapy
Trigger point therapy merupakan sebuah sebuah teknik kerja tubuh yang menggunakan tekanan untuk melemaskan bagian tissue pada otot dengan tujuan meredakan rasa sakit dan disfungsi pada beberapa bagian tubuh.
Trigger point therapy pertama dikembangkan oleh Dr. Janet Travell di Amerika pada tahun 1940an. Dan menjadi dikenal setelah beliau menjadi terapis Presiden John F. Kennedy untuk tritmen sakit punggung yang dideritanya.
Terapi yang digunakan Dr. Jane pada trigger point adalah dengan menyuntikkan saline dan procaine pada bagian trigger point.
Di tahun 1970, Bonnie Prudden seorang ahli terapi kebugaran dan latihan fisik menemukan bahwa hanya dengan memberikan tekanan yang berkesinambungan pada area trigger point juga dapat memberi manfaat dalam meredakan sakit. Ia mengembangkan teknik ini bertahun-tahun dan menyebutnya sebagai tritmen myotherapy yang bermanfaat bagi penderita yang merasa kesakitan dengan suntikan saline dan procaine.
Macam penyebab trigger point antara lain : hipoglikemia, kekurangan vitamin B6, alergi makanan, trauma cedera, postur buruk, susunan tulang yang tidak simetris, bekerja terlalu keras, atau penyakit pada saluran pencernaan seperti iritasi usus.
Trigger point therapy sangat berguna bagi orang yang mengalami kondisi artritis, sindrom carpal tunnel; sakit kronis pada punggung, lutut, dan bahu; sakit kepala; keram menstruasi; ,multiple sclerosis, otot keram, tegang dan lemah; nyeri paska operasi; linu panggul / pinggang; nyeri pada tulang temporal (dua sendi pada rahang dekat telinga; radang / iritasi pada tendon; dan cedera whiplash.
Sumber artikel : Encylopedia.
Sketched by: Verri JP, MA.
Untuk penyembuhan menggunakan terapi Trigger Point bisa hubungi ;
Rumah Sehat Thera Afiat
Jln. Kelapa Sawit Raya Blok Dd No.15
Kelapa Gading.
Jakarta utara.
Telp. 08111494599
087883171247
#therapytriggerpoint
#myofascialpainsyndrome
#syarafkejepit
#sakitpinggang
#lumbago
#skiatika
#lowbackpain
Minggu, 19 Mei 2019
Myofascial Trigger Point Therapy
Myofascial Trigger Point (MTrP)
1. Myofascial Trigger Point (MTrP)
Sampai saat ini keberadaan myofascial trigger point masih sukar diketahui penyebab utamanya. Namun para ahli menuliskan bahwa penyebabnya sangat banyak sesuai dengan varietas gangguannya, yang biasanya banyak berkaitan dengan ganguan organ dalam/alat viscera.
2. Myofascial Trigger Point (MTrP) ?
Myofascial trigger point merupakan suatu titik nyeri yang teriritasi pada otot dengan diameter ± 1 cm. , secara anatomi dan neurofisiologi myofascial trigger point tidak nampak/tidak berhubungan secara langsung antara lesi primer dengan gejala nyeri yang nampak di permukaan kulit.
Menurut Travel ,1997, mengemukakan bahwa myofascial trigger point adalah suatu titik yang sensitif (titik nyeri ) yang terdapat di dalam atau di luar daerah yang cedera dan terlokalisasi pada tingkat segmental umum dari sistem saraf simpatis serta tidak ada hubungan khusus dengan indikasi medis.
3. Ciri – Ciri Myofascial Trigger point.
Menurut Travell dan Janet, 1997, mengemukakan bahwa tanda – tanda dari myofascial trigger point, yaitu :
a. Titik nyeri sekitar 0,5 – 1 cm.
b. Sensitif/hyperalgesi.
c. Tidak mempunyai kaitan khusus dengan indikasi medik.
d. Lokasi diagnostik dan terapi berada di luar area titik nyeri.
e. Keberadaannya sering penderita tidak tahu, tetapi kemungkinan adanya ketidakseimbangan fungsi reflekstoar saraf.
f. Refered pain terjadi di tempat secara spontan saat dirangsang oleh sesudahnya.
Ciri lainnya berupa, adanya embrionik trigger point yang ditemukan sebagai “satelit” dalam keadaan trigger pada area sasaran, adanya painfull point (Tender point) yang tidak berkaitan dengan gejala, trigger point merupakan area peningkatan konsumsi energi dan berkurangnya suplai O2 pada sirkulasi lokal
4. Patologi
Myofascial pain merupakan nyeri yang teriritasi pada otot dengan diameter ± 0,5-1 cm, dengan gejala nyeri lokal pada otot, nampak reaksi vegetatif seperti vasokonstriksi. Munculnya myofascial pain kadangkala tidak disadari oleh penderita dan mungkin ada kaitannya dengan nyeri kronik akibat pembebanan, dalam hal ini posisi tubuh yang tidak seimbang oleh karena spasme otot. Spasme otot yang berlangsung lama akan menimbulkan gangguan sirkulasi darah, sehingga timbul nyeri berupa ischemic pain. Jika keadaan tersebut berlangsung dalam jangka waktu cukup lama, maka akan terjadi mekanisme adaptasi yang menyebabkan timbulnya myofascial pain. Pada myofascial pain sering ditemukan taut band berupa perasaan tidak enak, geli dan atau rasa kemang-kemang disekitar scapula sebagai akibat terangsangnya tipe saraf III/b pada nyeri kronik akibat pembebanan.
Kerusakan jaringan akibat pembebanan merupakan sumber stimulus nyeri dimana dalam proses tranduksi diubah menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima oleh ujung-ujung saraf. Stimulus tersebut dapat berupa stimuli fisik(tekanan), suhu dan kimia. Beberapa zat kimia seperti bradikinine, poplitida yang dilepaskan oleh jaringan yang rusak akan merangsang ujung saraf sensoris nyeri. Selanjutnya sinyal nyeri akan dihantarkan oleh serabut saraf kecil tipe A atau III b dan serabut saraf tipe C atau IV. Serabut saraf tipe A dengan kecepatan 15-40m/detik menghantarkan rasa nyeri cepat sedangkan serabut tipe C dengan kecepatan 0,5 – 2,5 m/detik menghantarkan rasa nyeri lambat. Kedua serabut tersebut memasuki medulla spinalis melalui radiks dorsalis naik atau turun satu atau dua segmen di dalam traktus lissauer dan berakhir pada kornu dorsalis substansia grisea medulla spinalis.
Serabut-serabut tersebut selanjutnya menyeberang ke sisi medulla spinalis yang berlawanan dalam kommisura anterior, lalu ke cranial ke otak melalui traktus spinothalmicus dan traktus spinoreticularis, yang pada akhirnya menghasilkan persepsi nyeri yang amat subyektif.
---------
Salah satu treatmen yang bisa diberikan pada Myofascial Trigger Point (MTrP) adalah friction.
1. Friction
Friction merupakan suatu manipulasi atau massage ringan pada suatu titik tertentu pada jaringan dengan gerakan melingkar atau melintang dengan gerakan yang dibentuk tersebut tidak boleh bergeser dari permukaan kulit dan tetap bergerak bersama-sama dengan menggunakan ujung thumb, finger atau tulang yang menonjol pada punggung jari tangan, yang ditujukan pada kapsul sendi, otot,fascia dan ligament.
2. Efek Friction
a. Efek pada sirkulasi darah
Menurut Mannel (hal. 49, 1964),dengan massage berupa friction dapat melancarkan sirkulasi darah secara tidak langsung, dan jika aliran vena menuju ke jantung, maka kecepatan denyut jantung akan meningkat, stroke volume darah akan meningkat, dengan demikian jumlah darah arteri ke perifer meningkat.
b. Efek pada sistem saraf
Nyeri dapat berkurang jika friction diberikan secara kontinyu. Pemberian friction mengakibatkan terjadinya sedative efek (menurunkan nyeri), efek pada sistem saraf tepi dan mungkin juga saraf motorik (Mannel, hal.51, 1964).
Menurut Korr (hal. 62,1996), dasar dari pengurangan nyeri ini diperoleh, antara lain dari : perbaikan sirkulasi darah dalam jaringan, normalisasi dari tonus otot, berkurangnya tekanan dalam jaringan, berkurangnya derajat keasaman, dan stimulasi pada serabut saraf afferent.
c. Efek pada jaringan otot.
Friction dapat memperbaiki nutrisi, memelihara dan meningkatkan kekuatan otot (Despard, hal. 52, 1964). Menurut Rosenthal, friction dapat memperbaiki keadaan otot menjadi normal, mengurangi dan menghilangkan jaringan fibrous pada fiber otot dan mempercepat proses pengabsorbsian cairan.
Pemberian deep friction pada jaringan otot dapat mencegah terbentuknya/mencerai beraikan perlengketan jaringan yang terbentuk pada fiber otot (Langley dan Hashmato, hal.54, 1964).
d. Efek pada kulit.
Rosenthal (hal.56, 1964), mengatakan bahwa pemberian friction dapat meningkatkan suhu kulit sekitar 2 – 3 °C oleh karena efek mekanik secara langsung , juga dapat mengaktifkan konduktivitas ujung-ujung saraf perifer di kulit.
Menurut Severini dan Venerando (hal. 56, 1964), pemberian deep pressure dapat mengubah suhu kulit, yang dikombinasikan dengan pemberian containing venellilong amide dan butoxethil nicotinate, serta dapat memperpanjang kenaikan suhu kulit, serta menambah aliran darah pada otot.
e. Efek pada sirkulasi limpa.
Massage efektif dalam meningkatkan kecepatan obstruksi pada jaringan cutaneus,otot,sendi, dan cairan connective Pemberian indurasi tehnik dapat menggerakkan cairan ekstramuscular ke dalam limpa dan mengalirkan darah ke limfe.
f. Efek pada metabolisme
Menurut Pemberton (hal. 57, 1964), secara umum proses metabolisme dipengaruhi oleh pengaruh sirkulasi massage – salah satunya tehnik friction, dimana dapat mempercepat proses perbaikan pada jaringan yang mengalami gangguan.
g. Efek pada psikologi.
Konsentrasi penuh dari seorang fisioterapis terhadap pasien dengan pemberian sensasi/perasaan, sentuhan fisik yang lembut akan membuat kepercayaan penuh terhadap pasien untuk menyatakan kesulitan kesehatannya sehingga membuat pasien merasa senang, tenang, dan menghilangkan kecemasan dan salah tafsir (Editor : Elizabeth, hal. 59, 1964).
h. Efek lain dari pemberian friction.
Manipulasi dengan tehnik friction pada gangguan fungsi jaringan lunak, memberikan efek untuk menormalkan kembali fungsi jaringan lunak tersebut via reflekstorik.
Seringkali letak nyeri yang direfleksikan ke permukaan kulit yang sesegmen, tersembunyi antara lain di organ viscera, namun dengan terapi reflekstoar salah satunya tehnik friction pada area nyeri tersebut dapat dicapai hanya dengan stimulasi di kulit area tertentu.
Friction cukup efektif untuk mengurangi nyeri kronik via Stimulasi tipe saraf III a untuk modulasi nocisensor di jaringan lunak serta melemaskan dan mengulur perlengketan jaringan lunak akibat kontraktur dan atau nodulus.
i. Efek piezo elektrik
Adanya suatu tekanan dan regangan menyebabkan timbulnya beban potensial pada jaringan dan akan menarik elektrolit yang mengandung ion positif maupun ion negatif.
Sedikit tulisan dari saya , semoga bermanfaat bagi kita semua.
SourceamirD.a.
IlustrasiVerriJp.Ma.
Rumah Sehat Thera Afiat
Jln. Kelapa Sawit Raya Blok Dd No.15
Kelapa Gading.
Jakarta utara.
Telp. 08111494599
087883171247
Kamis, 16 Mei 2019
Skiatika atau Syaraf Terjepit
SCIATICA
Rasa sakit yang disebabkan oleh kompresi atau iritasi saraf siatik oleh masalah di punggung bawah disebut sciatica .
Penyebab umum dari sciatica termasuk berikut punggung bawah dan kondisi pinggul herniasi tulang belakang , penyakit cakram degeneratif , lumbal stenosis tulang belakang , spondylolisthesis , dan sindrom piriformis .
Saraf adalah jalinan serat-serat yang menghubungkan organ tubuh dengan sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang) serta antar bagian sistem saraf lainnya. Sementara sistem saraf merupakan kompleks jaringan saraf dan sel-sel yang bertugas membawa pesan dari dan menuju otak serta sumsum tulang belakang ke seluruh bagian tubuh.
Saraf-saraf dalam tubuh manusia ini seperti jalinan kawat elektrik yang membawa informasi dari otak menuju seluruh bagian tubuh dan sebaliknya.
Berdasarkan fungsinya, saraf terbagi atas tiga kelompok:
Saraf Sensorik, bertugas mengantar impuls dari reseptor menuju sistem saraf pusat yang terdiri atas otak (ensefalon) dan sumsum belakang (medula spinalis).
Saraf Motorik, bertugas mengirim impuls yang berasal dari sistem saraf pusat menuju otot atau kelenjar yang hasilnya berupa respon tubuh terhadap rangsangan, yang dikenal dengan istilah iritabilita.
Saraf Intermediet, juga dikenal dengan nama saraf asosiasi dapat ditemukan pada sistem saraf pusat. Saraf intermediet ini bertugas menghubungkan sel saraf motor dengan sel saraf sensor atau berhubungan dengan sel saraf lainnya yang terdapat pada sistem saraf pusat.
Saraf kejepit disebabkan adanya kerusakan atau luka pada bagian saraf yang diakibatkan oleh tekanan berlebih pada saraf. Tekanan berlebih itu menyebabkan saraf tidak dapat melakukan tugasnya dengan baik, hal inilah yang menyebabkan timbulnya saraf kejepit. Pada dasarnya penyebab timbulnya saraf kejepit dapat berbeda-beda, tergantung pada lokasi terjepitnya saraf.
Saraf Kejepit pada Leher dan Punggung Bawah.
Saraf kejepit yang menyerang bagian leher atau punggung bawah diakibatkan oleh adanya cakram yang menonjol (bone spurs, arthritis) atau penyempitan spine (Spinal Stenosis).
Penyempitan spine merupakan penyempitan yang terjadi pada bagian kolom tulang belakang.
Saraf kejepit yang terjadi pada punggung bawah berpotensi menekan saraf sciatic sehingga menyebabkan sciatica.
Saraf Kejepit pada Pergelangan Tangan dan SikuSaraf kejepit yang menimpa pergelangan tangan dapat disebabkan carpal tunnel syndrome. Hal ini disebabkan adanya kompresi atau penekanan pada bagian saraf median pada saat melewati jaringan yang terbatas di pergelangan. Sementara Cubitel tunnel syndrome merupakan keadaan serupa yang disebabkan kompresi saraf ulnar pada siku. Saraf kejepit pada bagian pergelangan tangan dan siku banyak dialami oleh penderita diabetes dan orang-orang yang dalam kesehariannya banyak menggunakan keyboard komputer atau laptop.
Penyebab Lain Saraf Kejepit
Pembengkakan yang terjadi di sekitar saraf dapat disebabkan oleh adanya memar, luka, serta kondisi-kondisi lain tak terkecuali pembengkakan anggota tubuh saat kehamilan. Faktor genetis juga dapat memicu timbulnya penyakit saraf kejepit karena sejarah keluarga cukup berpotensi memanifestasikan kondisi serupa.
Gejala Saraf Kejepit
Gejala saraf kejepit ini dapat berbeda-beda antara anggota tubuh yang satu dengan lainnya. Hal ini tergantung di lokasi mana penjepitan saraf tersebut terjadi. Masing-masing saraf bertanggung jawab atas pengiriman pesan atau informasi dari dan menuju bagian-bagian spesifik dari tubuh.
Gejala umum saraf kejepit pada umumnya berupa:
Mati rasa, Nyeri, Kelemahan otot sepanjang alur saraf, Kesemutan.
Sensasi dari gejala saraf kejepit dapat menimbulkan bermacam-macam gangguan, seperti:
Saraf kejepit yang terjadi pada leher dapat menimbulkan rasa nyeri yang disertai gejala serupa pada bagian lengan.
Saraf kejepit yang terjadi pada bagian punggung bawah mengakibatkan nyeri serta kaku punggung dengan gejala sampai menuruni tungkai.
Rumah Sehat Thera Afiat
Jln. Kelapa Sawit Raya Blok Dd No.15
Kelapa Gading.
Jakarta utara.
Telp. 08111494599
087883171247
Ibu Sholeh +62 89
Langganan:
Postingan (Atom)



